SUMENEP – Ratusan perempuan memadati Ballroom Hotel De Baghraf, Sumenep, Rabu (11/2). Mereka datang dari beragam latar belakang, mulai ibu rumah tangga hingga mahasiswa.

Siang itu, mereka mengikuti sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar anggota DPR RI Dapil Jawa Timur XI (Madura) dari Fraksi PDI Perjuangan, MH Said Abdullah.
Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Materi yang disampaikan tidak berhenti pada tataran konsep. Para narasumber mengaitkan dengan nilai-nilai kebangsaan dengan realitas keseharian masyarakat.
Dua narasumber dihadirkan dalam forum tersebut, yakni Hodaifah dan Indayani. Turut mendampingi, tenaga ahli MH Said Abdullah, Moh. Fauzi, M.Pd., dan Slamet Hidayat, S.H.
Hodaifah menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—bukanlah hal baru. Materi tersebut, kata dia, telah dipelajari sejak bangku sekolah. Namun, implementasinya kerap belum maksimal.
“Empat Pilar ini sudah kita pelajari sejak SMP. Persoalannya bukan pada tahu atau tidak tahu, tetapi pada bagaimana kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut dia, Pancasila tidak cukup dihafal sebagai lima sila. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial harus tercermin dalam sikap dan tindakan. Termasuk dalam cara memperlakukan sesama di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Dia juga menyoroti peran strategis perempuan dalam merawat kebangsaan. Kontribusi terhadap bangsa, lanjutnya, tidak selalu identik dengan jabatan formal.
“Menjadi ibu rumah tangga dan mendidik anak dengan baik adalah kontribusi besar. Dari keluarga yang kuat, lahir generasi yang kuat,” tegasnya.
Selain itu, Hodaifah mengingatkan pentingnya memahami hak dan kewajiban konstitusional. UUD 1945 telah menjamin persamaan di depan hukum, hak atas pekerjaan, serta kebebasan beragama. Tantangannya adalah memastikan implementasi berjalan adil dan merata.
Sementara itu, Indayani mengulas pentingnya menjaga harmoni dalam masyarakat multikultural. Indonesia, kata dia, berdiri di atas keberagaman suku, budaya, bahasa, dan ras.
“Keberagaman adalah kekayaan. Jangan sampai perbedaan justru menjadi sumber perpecahan,” katanya.
Dia mengingatkan bahwa intoleransi bisa tumbuh dari hal-hal kecil, termasuk candaan yang merendahkan identitas tertentu. Karena itu, sikap saling menghormati harus dijaga, mulai dari lingkungan keluarga hingga ruang publik.
Indayani juga menyinggung posisi strategis Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua samudra dengan sumber daya alam melimpah. Potensi itu, menurutnya, hanya dapat dikelola optimal jika masyarakat solid dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
Diskusi berlangsung dinamis. Sejumlah peserta aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan. Di akhir kegiatan, pesan yang menguat adalah pentingnya mengimplementasikan Empat Pilar Kebangsaan secara nyata, yakni dimulai dari rumah masing-masing, lingkungan sekitar, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. (vin/nta)
















