OLEH: Abd. Muksidyanto
(Public Realm Activist, Jurnalis Senior)
MASIH soal inspeksi mendadak (sidak). Komisi III DPRD turun. Rutin. Hampir terlalu rutin. Pertanyaannya sederhana, hasilnya apa?

Saya bukan anti-sidak. Sama sekali tidak. Sidak itu perlu. Bahkan penting. Masalahnya, setelah itu.
Sering kali yang kita lihat hanya datang, marah, difoto, lalu pulang. Besoknya? Sunyi.
Saya mulai bertanya-tanya. Apakah sidak ini benar-benar untuk membenahi? Atau sekadar menunaikan perjalanan dinas—agar ada yang bisa diklaim?
Pertanyaan itu wajar. Karena ingatan publik belum pendek.
Saya masih ingat. Tidak lama. Komisi III pernah membuka posko pengaduan BSPS. Heboh. Ramai. Galak. Katanya untuk melindungi rakyat.
Lalu apa ujungnya? Saya jujur tidak tahu. Atau mungkin saya yang tidak diberi tahu.
Begitu juga soal galian C. Dulu disisir keras. Sekarang? Entah.
Di sinilah masalahnya. Politik kita terlalu sering berhenti di awal. Jarang menuntaskan sampai akhir.
Yang membuat muak bukan kegagalannya. Tapi sikap seolah-olah.
Seolah bekerja? Seolah peduli? Seolah berpihak? Padahal publik tidak butuh seolah-olah. Publik butuh hasil.
Saya ingin percaya bahwa sidak itu tulus. Saya ingin dugaan buruk saya salah. Karena kalau tidak, kepercayaan akan makin habis. Dan kepercayaan adalah modal yang paling sulit diperbarui.
Maklum. Tak sedikit peristiwa politik berhenti di tanda seru. Padahal yang dibutuhkan justru titik. Atau setidaknya, tanda tanya yang dijawab. Ketika tidak ada ujung, publik dipaksa menebak. Dan tebakan yang terlalu sering dikhianati, akan berubah menjadi sinisme.
Ingat! Publik tak bodoh. Sikap seolah marah. Seolah membela rakyat. Itu mudah dibaca. Publik bukan tidak mengerti. Publik hanya terlalu sering dipaksa diam.
Itu sababnya. Kepada kanda Akhmadi Yasid, catatan ini bukan penghakiman. Ini hanya dialog yang terlambat.
Saya akui. Saya memang pernah lugu. Dan, tidak mau menyangkal itu. Tapi waktu mengajarkan satu hal. Keluguan bukan alasan untuk berhenti berpikir.
Dulu. Kita memang pernah bersama. Berjalan bersama. Tapi. Waktu terus mendidik saya. Itu sebabnya. Sejak kapan berubah baik dianggap barang haram?
Mungkin. Kanda Yasid lupa. Bahwa manusia bisa berubah. Bisa lebih baik. Juga bisa lebih buruk.
Begitu pun seperti kanda Yasid. Sejak jadi politisi. Rupanya gampang bereaksi. Gampang menilai seseorang dari kulit luar. Semoga itu baik.
Padahal. Reaksi itu jarang memberi ruang bagi perenungan. Dan kekuasaan yang tak mau merenung, cepat kehilangan arah.
Saya tahu. Ada hirarki yang diwariskan tanpa pernah diuji. Senior dan junior. Senior selalu benar—begitulah rumusnya.
Junior belajar menerima. Sekalipun direndahkan di ruang publik. Tidak masalah. Sebab, seniorlah yang paling hebat.
Sebagai junior. Tetap hormat. Bahkan ketika harus membela senior dalam fase paling rapuh sekalipun. Kesetiaan junior menjadi barang pilu.
Merendahkan junior mungkin terasa sah dalam logika kuasa. Tapi kuasa tak pernah abadi. Yang abadi hanyalah catatan kecil yang ditinggalkan waktu.
Salam hormat dari junior satu ini. Junior yang dianggap ‘Luar Kepala’. Sekian.














