Menu

Dark Mode
Awali Pekan Kerja, Kemenag Sumenep Gelar Istigasah Rutin Perkuat Spirit Pelayanan Komitmen Pemkab Sumenep Berbuah Hasil, Penurunan Emisi GRK Terus Meningkat SDM Unggul Jadi Kunci Sumenep Tembus Daya Saing Global Fokus Tingkatkan Kualitas SDM, IPM Sumenep Naik Konsisten Ruang Fiskal Turun, Bappeda Pacu Efektivitas APBD untuk Jaga Laju Pembangunan Komitmen Pemkab Sumenep Berbuah Hasil, Penurunan Emisi GRK Terus Meningkat

Jatim

Dari Tanduk Majeng ke Riset Karbon Dunia

badge-check


					Dari Tanduk Majeng ke Riset Karbon Dunia Perbesar

BANGKALAN – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali mencatatkan prestasi membanggakan di level internasional. Salah satu dosennya, Nizar Amir, berhasil menuntaskan studi doktoral di Sunway University, Malaysia, hanya dalam waktu 2 tahun 6 bulan. Tak hanya lulus cepat, putra kelahiran Ampel, Surabaya, itu juga sukses menghasilkan sejumlah publikasi ilmiah internasional bereputasi Q1 dengan total journal impact factor mencapai 53,9.

Seluruh publikasi tersebut merupakan hasil riset disertasi doktoralnya di bidang Carbon Dioxide Capture, Utilization and Storage (CCUS) atau teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon dioksida. Menariknya, seluruh artikel ilmiah tersebut ditulis dengan posisi sebagai penulis pertama.

Namun, bagi Nizar, perjalanan meraih gelar doktor bukan sekadar capaian akademik. Ada nilai-nilai lokal Madura yang ikut mengiringi langkahnya hingga mampu menembus panggung riset global.

Filosofi Tanduk Majeng yang lekat dengan masyarakat pesisir Madura menjadi sumber inspirasi selama menempuh studi di negeri jiran. Semangat pantang menyerah, keberanian menghadapi tantangan, serta keyakinan untuk terus berikhtiar dan bertawakal menjadi energi yang terus dibawa dalam perjalanan akademiknya.

Selama berada di Malaysia, Nizar aktif berinteraksi dengan komunitas perantauan Madura yang bermukim di Desa Mentari, Bandar Sunway. Dari lingkungan tersebut, ia melihat secara langsung karakter masyarakat Madura yang dikenal pekerja keras, tangguh, amanah, dan memiliki solidaritas tinggi.

Pengalaman itu semakin kaya melalui perjumpaannya dengan sejumlah tokoh dan sahabat perantauan, di antaranya Ustadz Zuhri yang aktif mendampingi pekerja migran melalui PCINU Malaysia, serta Mad Tadong, Syaiful Bahri, dan Moh Salem yang menjadi bagian penting dalam kehidupannya selama jauh dari keluarga.

“Nilai-nilai yang saya lihat dari masyarakat Madura di perantauan sangat sejalan dengan pesan dalam lagu Tanduk Majeng. Berani menghadapi gelombang kehidupan, bekerja keras, dan selalu berserah kepada Allah SWT,” ujarnya.

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam dunia penelitian. Dalam studi doktoralnya di bidang teknik mesin, Nizar mengembangkan material baru berbasis limbah industri rumput laut yang dimanfaatkan sebagai adsorben karbon dioksida (CO₂).

Riset tersebut difokuskan pada teknologi post-combustion carbon dioxide capture, yakni proses menangkap emisi karbon dari gas buang industri maupun pembangkit listrik berbahan bakar fosil sebelum dilepaskan ke atmosfer.

Secara ilmiah, material yang dikembangkan dirancang memiliki karakteristik penting untuk proses adsorpsi karbon, seperti dominasi mikropori, struktur pori yang seimbang, luas permukaan tinggi, stabilitas mekanik yang baik, serta kemampuan regenerasi sehingga dapat digunakan berulang kali.

Inovasi tersebut dinilai strategis karena tidak hanya membantu menekan emisi karbon, tetapi juga mengubah limbah industri menjadi produk bernilai tambah. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya, pengurangan limbah, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan lingkungan secara berkelanjutan.

Melalui penelitian tersebut, limbah industri rumput laut yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal berpotensi menjadi solusi teknologi untuk menghadapi tantangan global berupa perubahan iklim dan peningkatan emisi karbon.

Prestasi yang diraih Nizar Amir menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal Madura tidak hanya hidup dalam tradisi dan budaya, tetapi juga dapat menjelma menjadi kekuatan akademik yang melahirkan inovasi berkelas dunia.

Dari filosofi Tanduk Majeng yang lahir di pesisir Madura hingga riset karbon yang menjawab tantangan global, UTM membuktikan bahwa budaya lokal, potensi daerah, dan kapasitas intelektual dapat berjalan beriringan untuk memberikan kontribusi nyata bagi masa depan dunia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Awali Pekan Kerja, Kemenag Sumenep Gelar Istigasah Rutin Perkuat Spirit Pelayanan

6 July 2026 - 12:00 WIB

SDM Unggul Jadi Kunci Sumenep Tembus Daya Saing Global

29 June 2026 - 07:54 WIB

Fokus Tingkatkan Kualitas SDM, IPM Sumenep Naik Konsisten

29 June 2026 - 06:46 WIB

Ruang Fiskal Turun, Bappeda Pacu Efektivitas APBD untuk Jaga Laju Pembangunan

29 June 2026 - 06:34 WIB

Komitmen Pemkab Sumenep Berbuah Hasil, Penurunan Emisi GRK Terus Meningkat

28 June 2026 - 07:18 WIB

Trending on Jatim