SUMENEP – Di pulau yang dikecup angin barat Masalembu, Darul Hasyim Fath melangkah pelan menyusuri jalan-jalan kecil yang memeluk sunyi.
Ketua Komisi I DPRD Sumenep itu kembali hadir, bukan sebagai pejabat yang membawa agenda, tetapi sebagai putra pulau yang pulang menemui denyut asalnya.

Setiap helai cerita rakyat yang ditemuinya adalah semacam gema lama yang ingin kembali diperdengarkan.
Dalam agenda Dengar Pendapat Rakyat (reses) Masa Sidang I 2025, Darul meneguhkan diri bahwa mendengarkan suara rakyat bukanlah satu-satunya rutinitas politik, akan tetapi perjalanan batin untuk terus merawat harapan-harapan kecil yang kerap terbenam di antara gelombang.
Selama sepekan, dari tanggal 7 hingga 14 November, dia membuka ruang bagi siapa pun yang ingin menitipkan keresahan.
Warga datang membawa suara yang dibenamkan oleh keseharian. Mulai dari jalan yang retak, anak-anak yang mendamba ruang belajar yang lebih teduh, hingga pelaku usaha kecil yang menahan napas panjang menghadapi persaingan.
Darul mendengar dengan kesabaran yang nyaris seperti doa. Tangan kirinya mencatat, mata kanannya menatap wajah-wajah yang berbicara.
Setiap suara dia simpan seperti amanah. Tidak boleh tercecer, juga tak boleh terlewat. Baginya, bertemu rakyat adalah ziarah sunyi. Perjalanan menundukkan diri untuk mendengarkan yang sering tak terdengar.
“Aspirasi ini bukan sekadar laporan. Ini adalah penunjuk arah kami dalam memperjuangkan kebijakan,” ucapnya pelan.
Semua keluhan dan gagasan dia himpun untuk dibawa ke ruang pembahasan DPRD. Dia percaya, pembangunan baru menemukan pijakannya ketika diawali dari kebutuhan paling dasar manusia yang tinggal di bawahnya.
“Kami hadir bukan hanya sebagai wakil, tapi sebagai jembatan antara harapan dan keputusan,” lanjutnya.
Ketika rangkaian reses mencapai senjanya, Darul menyebut bahwa suara rakyat, dari desa terpencil hingga pusat kota adalah denyut yang tak boleh dibiarkan melemah.
Sebab, dia sadar betul bahwa dari sanalah kebijakan menemukan makna. Dari sana pula masa depan Sumenep ditulis perlahan, baris demi baris.
“Senyampang kita masih diberi napas panjang oleh Tuhan, di situlah wakil rakyat diuji dalam segala hal,” tutupnya. (vin/nta)
















