SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep tak ingin tinggal diam menghadapi ancaman penyakit tuberkulosis (TBC). Melalui program Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOS TBC), pemkab terus menggerakkan semua lini untuk mempercepat target eliminasi TBC pada 2030.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyebut, program TOS TBC bukan sekadar kegiatan rutin, tapi langkah strategis memperkuat pencegahan dan pengendalian TBC di daerah.

“Program ini menjadi tulang punggung kebijakan kesehatan daerah menuju eliminasi TBC tahun 2030,” ujarnya, Rabu (12/11).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, jumlah penderita TBC pada 2023 mencapai 2.556 kasus. Tahun berikutnya naik menjadi 2.589 kasus, dan hingga akhir Oktober 2025 sudah ditemukan 2.294 kasus. Angka itu menempatkan Sumenep sebagai kabupaten dengan jumlah penderita TBC tertinggi kedua di Jawa Timur.
Fauzi menegaskan, upaya pemberantasan TBC tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan dukungan semua pihak. “Mulai dari akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga media, semuanya harus ikut terlibat,” tegasnya.
Dia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen memperluas deteksi dini, membuka akses pengobatan yang lebih mudah, serta memperkuat edukasi masyarakat agar tidak menyepelekan gejala TBC.
Sementara itu, Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ellya Fardasah menjelaskan, bahwa peningkatan jumlah kasus tidak selalu berarti penularan meningkat. Justru karena penemuan kasus aktif makin luas.
“Kasus TBC di Sumenep itu sifatnya penemuan. Teman-teman di puskesmas aktif mencari dan memeriksa masyarakat yang berisiko. Jadi semakin banyak ditemukan, semakin cepat bisa diobati,” terangnya.
Ellya menegaskan, keberhasilan pengendalian TBC bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. “Yang paling penting ditemukan, lalu diobati sampai sembuh. Jangan putus di tengah jalan karena bisa menyebabkan resistensi obat,” tandasnya. (*/nta)














